Alarm jam 10 pagi
Saat itu alarm berbunyi jam
10 pagi dihari minggu. Alarm itu berbunyi dan menunjukan peringatan seorang
Herry yang akan selalu mengucapkan selamat pagi dan mengabari setiap harinya
kepada sang kekasih pujaan hati. Kekasihnya bernama Linda. Mereka telah cukup
lama menjalin hubungan cinta sekitar 2 bulan lebih. Suatu hari di desa
terpencil tempat tinggal Herry dan kekasihnya Linda sedang ramai mengadakan
acara perlombaan setiap tahunnya dengan menggelar acara lomba panjat pinang
yang selalu dikenal oleh setiap masyarakat penjuru Indonesia.
“Lin ternyata acara
perlombaan tahun ini sangat meriah yah?!” ucap Herry.
“iya, meriah banget. Aku gak
nyangka bakalan semeriah ini!” jawab linda.
Sorak para penonton membakar
semangat orang-orang yang sedang mengikuti perlombaan. Acara semakin meriah
saat salah satu peserta berhasil memanjat hingga atas puncak yang terdapat
berbagai hadiah yang disediakan.
“ayo-ayo ambil hadiahya!
Ambil yang banyak!!” teriak para penonton.
Acara pergelaran didesa itu
pun telah selesai. Akhirnya Herry dan Linda pulang bersama dengan berjalan kaki
menelusuri jalan kecil yaitu sawah desa. Seperti biasa sawah disana memberikan
pemandangan yang menakjubkan saat tiba waktu matahari tenggelam. Herry dan
Linda berhenti sejenak dan memandang ke arah matahari tenggelam bersama
pemandangan indah yang tak kalah indahnya.
“Lin? Lihat matahari yang
tenggelam itu!!”
“iya indah banget, pokonya
gak ada duanya deh!”
“iya kamu benar Lin!”
Mereka terus memandang
pemandangan indah yang menakjubkan itu dengan penuh rasa syukur kepada Allah
karena indahnya alam ciptaanNya.
“Linda apa kamu ingat?”
Tanya Herry.
“ingat apa?” linda menjawab
dengan bingung.
“iya kita sudah 2 bulan
lebih menjalin hubungan dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat kita
selesai sekolah nanti!”
“sekarang aku mau nanya sama
kamu, boleh gak?” Tanya Linda.
“apa itu?”
“kita kan hidup didesa kecil
ini yang indah, setelah selesai sekolah nanti apa yang kamu harapkan?”
“aku ingin pergi ke kota
untuk mencari ilmu yang dapat berguna untuk masa depanku!”
“ih keren banget tujuan
kamu!”
“kalau kamu lin, apa yang
kamu harapkan ?”
“entahlah! Aku tidak tahu!”
Sambil berbalik memandang
Linda, Herry kemudian memegang tangan Linda dan menatapnya dengan tajam.
“Lin aku ingin kamu ikut aku
nanti!
“kemana? Maksudmu pergi ke
kota?
“iya ke kota berjuang
bersama dan aku yakin kita pasti bisa!”
“aku juga ingin tapi apa
orang tua kita akan menyetujuinya?”
“aku yakin orang tuaku dan
orang tuamu akan menyetujuinya, aku yakin!”
Herry menyakinkan Linda
dengan sepenuh hati agar ia bisa berjuang bersama dikota nanti. Mereka pulang
ke rumahnya masing-masing dan mereka bersiap untuk hari esok yang lebih baik
saat hari sekolah dimulai.
Herry dan Linda duduk
dibangku kelas 2 SMA. Mereka satu sekolah nahkan satu kelas. Mereka belajar
dengan sungguh-sungguh demi mewujudkan impian mereka bersama. Meskipun mereka
berpacaran, namun mereka tetap menomor satukan belajar.
Hari demi hari mereka telah
melewati masa-masa kelas 2, kini mereka berinjak dibangku kelas 3 SMA yang akan
menentukan untuk kedepannya. Mereka menjalin hari-hari yang bahagia dan seperti
biasa Alarm jam 10 pagi selalu menjadi simbp hubungan mereka untuk saling
mengingatkan dalam keadaan jauh atau dekat.
Jam 10 pagi tanda bel
berbunyi. Setiap siswa keluar dari kelasnya untuk melakukan kegiatan atau
istirahat dilingkungan sekolah. Setiap jam istirahat, Herry selalu berkunjung
ke perpustakaan untuk meminjam sambil membantu menyusun buku perpustakaan.
“selamat pagi ibu!” ucap
Herry dengan penuh senyuman.
“selamat pagi Herry, wah
sudah kelas 3 yah mau selesai!”
“iya bu!”. Sambil
bersalaman.
“apa ada yang bisa ibu bantu
nak?”
“saya mau meminjam buku
ensiklopedia, apa ada buku ini disini?
“oh kalau buku itu tidak
ada!”
“oh gitu yah bu, tapi ko gak
ada?
“buku ensiklopedia yang dulu
ada tapi kalau yang baru tidak ada mungkin buku dari pemerintahnya belum sampai
kesini!”
“oh iya gak apa-apa deh
buku, kalau begitu saya mau bantu beresin bukuaja deh bu!”
“iya terimakasih nak, kamu
memang baik!”
“sama-sama bu!”
Herry mulai membereskan buku
yang ada diperpustakaan itu. Tak lama kemudian, Linda datang mencari Herry.
“Herry!!”
“ hey linda! Ada apa?”
“ hey linda! Ada apa?”
“gak apa-apa! Cuma mau bantu
kamu doang beresin buku! Hehehe”
“ih kamu ini kirain ada apa,
ya sudah terimaksih yah!”
“ok bebp! hehe”
“apa itu? Apa itu sebuah
kata yang kamu ucapkan ledekan buat aku dengan kata bebp?”
“hehe kalau iya? Kenapa!
“kamu! Ih”
Mereka bercanda bersama
dengan penuh tawa suka riang. Tak heran jika diantara mereka ada yang hingga
mengeluarkan air mata saat tertawa, terutama Linda.
“Linda matamu mengekuarkan
air mata!” sambil mengusap kedua mata linda dengan kedua tangan Herry yang
penuh kasih sayang.
“iya mataku berair jika
terus tertawa seperti ini, hehe!” sambil memegang tangan Herry.
“tidak masalah kamu
mengeluarkan air mata saat bahagia, asalkan jangan pernah mengeluarkan air mata
kesedihan dari wajahmu yang manis itu!”.
“hehe bisa aja kamu gombal!”
“aku gak gombal, aku
serius!|”
Ditengah-tengahnya
kebahagian, tiba-tiba salah seorang guru datang berkunjung melihat Linda dan
Herry sedang saling berpegangan. Hal ini mebuat Herry melepaskan tangannya dari
wajah Linda.
“hey sedang apa kalian! Apa
yang kamu lakukan Herry dan kenapa Linda mata kamu sepertinya telah menangis?!”
Tanya pak guru.
“gak apa-apa pak, kami
sedang beresin buku-buku yang ada diperpustakaan sambil bercanda, dan tak
disangka karena penuh tawa mata Linda mengeluarkan air mata!”. Jawab Herry.
“apa benar yang
dikatakannya, Linda?” Tanya pak guru.
“iya pak benar! Maaf yah pak
Herry Cuma ingin menghapus air mata saya karena tangan saya cukup kotor untuk
menghapusnya.” Jawab Linda.
“oh begitu! Ya sudah kalian
lanjutkan beresin bukunya dan jangan lupa jika bel haru segera masuk kelas!”
“siap pak” jawab Linda dan
Herry.
Mereka melanjutkan aktivitas
membereskan buku. Dan bel tanda masuk mulai berbunyi. Mereka kemudian pergi ke
kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
Suatu hari mereka berhasil
menempuh masa-masa sekolah. Herry yang akan berencana melanjutkan kuliah ke
kota ia mendapat izin dari kedua orang tuanya. Sementara Linda tidak di izinkan
untuk melanjutkan. Saat itu mereka berdua sedang berada disaung sawah tempat
yang cukup nyaman untuk melihat matahari tenggelam disora hari.
“Lin, aku dizinin pergi ke
kota untuk kuliah!” ucap Herry dengan penuh bahagia.
“syukurlah kalau begitu aku
ikut senang!~” ucap Linda dengan tersenyum paksa.
“kenapa kamu seperti orang
yang tidak tulus begitu senyumnya? Senyum dong yang lebar heheh!”
“maafkan aku Herry!”
“maaf kenapa? Memangnya kamu
punya salah apa? aku baha………
“bukan itu!!!”
kemudian Herry terdiam saat Linda mengungkapkan sedikit Kata yang bernada amarah.
kemudian Herry terdiam saat Linda mengungkapkan sedikit Kata yang bernada amarah.
“maafkan aku Herry, aku gak
bisa ikut kamu pergi ke kota untuk kuliah karena aku tidak memliki izin dari
kedua orang tuaku!!”. Ucap lanjut Linda.
“ke,kenapa? Apa salah jika
kamu pergi melanjutkan study kamu?”
“mungkin hal ini tidak salah
dimata kamu, namun salah dimata kedua orang tuaku!, mungkin gak percaya dengan
hal ini tapi aku akan dijodohkan dengan orang lain oleh kedua orang tuaku!”
“a,aapa? Haha kamu bencanda
kan!
“aku gak becanda Herry!!.
Ucap Linda sambil mengeluarkan air mata.
“kenapa kamu tega melakukan
ini setelah semua apa kita lewati bersama!”
“jujur aku tidak mau bahkan
aku tidak ingin menikah lebih cepat dari ini dan aku…..”
“cukup Linda!. Aku
menegerti!!.
“kamu tidak mengerti Herry!”
sambil menangis.
“Lin aku sadar aku bukan
yang terbaik dimata kedua orang tuamu dan aku hanya
seorang pelajar jadi wajar
saja orang tuamu akan menikahkanmu dengan seseorang yang terbaik!”
“tapi aku hanya ingin pergi
bersamamu ke kota!”
“iya aku tahu! Tapi kamu
harus menuruti apa kata kedua orang tuamu dan…..”
“tapi Her…..”
“dan kamu akan bahagia lebih
dari aku!
Setelah itu, Herry pergi
meninggalkan Linda. dengan wajah yang tersenyum namun hati terluka. Herry tetap
pergi meninggalkan Linda yang sedang menagis. Saat itu juga, senja menjadi
saksi tentang perpisahan diantara mereka yang menyisakan kenangan indah dalam
air mata kesedihan.
Semenjak itu, Herry tak
pernah melihat Linda lagi. Ia menagis dan mengurung diri dikamar. Ia berusaha
tetap tegar dengan kenyataan namun yang ada hanya air mata yang mengalir
didasar hati dan jiwanya.
Suatu saat Herry
bersiap-siap untuk pergi ke kota dan melanjutkan pendidikannya. Ia
bersiap-siap. Tanpa disengaja ia melihat sebuah undangan pernikahan. Ia membuka
undangan itu dan ternyata itu adalah undangan Linda menikah. Undangan itu sudah
lama berada diluar jendela rumah Herry, dan tak disangka juga Linda menikah
dihari Herry akan mulai pergi ke kota. Herry kembali lagi teringat setelah 2
minggu ia tidak bertemu Linda. ia kembali dilema dengan hal ini. Ia harus
memutuskan apakah harus datang memenuhi undangan atau tidak.
Sementara itu, pesta
pernikahan Linda sangat meriah. Ia menikah dengan seorang laki-laki dari kota.
Pesta pernikhan Linda sangat meriah hingga hampir seluruh warga desa datang dan
diundang. Saat itu jam 10 pagi alarm jam berbunyi, namun alarm tanda peringatan
mengabari sang kekasih kini berubah menjadi acara pernikahan yang dilalui
dengan orang lain. Linda kembali teringat pada masa-masa yang telah ia lalui
bersama Herry. Namun, karena telah berlalu ia akhirnya resmi menjadi istri
orang lain. Semua orang berpesta diacara kebahagiaan itu. Akan tetapi Herry
tidak datang memenuhi undangan, sehingga hal ini membuat tanda Tanya Linda dan
sebagian warga yang tahu tentang hubungan Herry dan Linda.
Kira-kira pukul 14:30 waktu
pesta pernikahan Linda akan segera berakhir. Dan saat itu pula Herry datang ke
pesta pernikahan Linda. ia tampil dengan gaya seorang mahasiswa dengan hati
yang besar. Hal ini, sontak menjadi perhatian keluarga dan warga sekitar yang
masih ada diacara pernikahan Linda.
Dengan penuh senyuman manis
dan tampilan rapih, Herry mengucapkan selamat kepada Linda atas pernikhan yang
ia dapat
“waw pestanya meriah sekali,
wahh selamat yah Lin!!” ucap Herry dengan penuh senyuman.
“Herry??” Tanya linda,
“ada apa Lin?
“aku mau bicara sebentar,
ikut aku!
Mereka berdua pergi
kebelakang rumah, yang disana berisi tempat pemotretan sang pengantin. Mereka
duduk dikursi itu. Kemudian Herry membuka tasnya dan memberikan Linda sebuah
hadiah yang cukup besar.
“ini untuk kamu Lin!!”
“kamu gak usah repot-repot
Herry!!
“sudah ambil aja sebagai
tanda terakhir dari aku!
Linda mengambil hadiah dari
Herry dan meletakannya dipangkuan.
“Herry maafkan aku!!
“apa? maaf apa! kamu gak
usah minta maaf!
“tapi kan ….
“sudah! Mulai sekarang aku
ingin melihat air mata kebahagian dimatamu, sama seperti yang pernah kita lalui
bersama dulu saat canda tawa menghiasi hari-hari kita dan… kini kamu mendapat
seseorang yang abadi!”
“Herry…..
“dan satu hal lagi! Aku akan
pergi ke kota sekarang! Aku mungkin akan tinggal disana dan mendapatkan
pendidikan! Maaf Cuma ini bisa aku lakukan saat hari kebahagianmu, aku harap
kamu menyukai apa yang ada didalam kado itu. Maaf aku pergi.
Herry akhirnya pergi dari
pesta pernikahan Linda setelah ia memberi ucapan selamat dan memberikan kado
trakhir. Linda hanya bisa terdiam dan melihat langkah demi langkah Herry pergi.
Malam telah tiba, Linda dan
suaminya membuka setiap kado yang mereka dapat. Kemudian linda membuka kado
dari Herry. Isinya adalah sebuah sepasang alat sholat dan sepucuk surat. Linda
membaca sepucuk surat yang Herry tuliskan untuknya
“Linda selamat yah atas kebahagian yang telah kamu
dapat hari ini. Kini kamu tidak akan lagi memberikan kabar kepadaku saat alrm
pukul 10 pagi berbunyi. Namun kini tanda itu akan kamu lalui bersama suamimu
mungkin belahan jiwamu yang abadi. Maaf yah aku Cuma bisa ngasih ini dan
memberikan kata-kata lewat sepucuk surat kecil ini. Sekali lagi selamat yah!
Dan aku pergi menuju dunia dan cerita yang baru”
Akhirnya cerita mereka
berakhir dengan air mata. Herry pergi mengejar cita-citanya dan Linda hidup
bahagia dengan orang yang mungkin ia cinta.