Tuesday, April 14, 2015

CERPEN: ALARM JAM 10 PAGI


Alarm jam 10 pagi

 Saat itu alarm berbunyi jam 10 pagi dihari minggu. Alarm itu berbunyi dan menunjukan peringatan seorang Herry yang akan selalu mengucapkan selamat pagi dan mengabari setiap harinya kepada sang kekasih pujaan hati. Kekasihnya bernama Linda. Mereka telah cukup lama menjalin hubungan cinta sekitar 2 bulan lebih. Suatu hari di desa terpencil tempat tinggal Herry dan kekasihnya Linda sedang ramai mengadakan acara perlombaan setiap tahunnya dengan menggelar acara lomba panjat pinang yang selalu dikenal oleh setiap masyarakat penjuru Indonesia.

“Lin ternyata acara perlombaan tahun ini sangat meriah yah?!” ucap Herry.
“iya, meriah banget. Aku gak nyangka bakalan semeriah ini!” jawab linda.

 Sorak para penonton membakar semangat orang-orang yang sedang mengikuti perlombaan. Acara semakin meriah saat salah satu peserta berhasil memanjat hingga atas puncak yang terdapat berbagai hadiah yang disediakan.

“ayo-ayo ambil hadiahya! Ambil yang banyak!!” teriak para penonton.

 Acara pergelaran didesa itu pun telah selesai. Akhirnya Herry dan Linda pulang bersama dengan berjalan kaki menelusuri jalan kecil yaitu sawah desa. Seperti biasa sawah disana memberikan pemandangan yang menakjubkan saat tiba waktu matahari tenggelam. Herry dan Linda berhenti sejenak dan memandang ke arah matahari tenggelam bersama 
pemandangan indah yang tak kalah indahnya.

“Lin? Lihat matahari yang tenggelam itu!!”
“iya indah banget, pokonya gak ada duanya deh!”
“iya kamu benar Lin!”

Mereka terus memandang pemandangan indah yang menakjubkan itu dengan penuh rasa syukur kepada Allah karena indahnya alam ciptaanNya.

“Linda apa kamu ingat?” Tanya Herry.
“ingat apa?” linda menjawab dengan bingung.
“iya kita sudah 2 bulan lebih menjalin hubungan dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat kita selesai sekolah nanti!”
“sekarang aku mau nanya sama kamu, boleh gak?” Tanya Linda.
“apa itu?”
“kita kan hidup didesa kecil ini yang indah, setelah selesai sekolah nanti apa yang kamu harapkan?”
“aku ingin pergi ke kota untuk mencari ilmu yang dapat berguna untuk masa depanku!”
“ih keren banget tujuan kamu!”
“kalau kamu lin, apa yang kamu harapkan ?”
“entahlah! Aku tidak tahu!”

 Sambil berbalik memandang Linda, Herry kemudian memegang tangan Linda dan menatapnya dengan tajam.

“Lin aku ingin kamu ikut aku nanti!
“kemana? Maksudmu pergi ke kota?
“iya ke kota berjuang bersama dan aku yakin kita pasti bisa!”
“aku juga ingin tapi apa orang tua kita akan menyetujuinya?”
“aku yakin orang tuaku dan orang tuamu akan menyetujuinya, aku yakin!”

 Herry menyakinkan Linda dengan sepenuh hati agar ia bisa berjuang bersama dikota nanti. Mereka pulang ke rumahnya masing-masing dan mereka bersiap untuk hari esok yang lebih baik saat hari sekolah dimulai.
Herry dan Linda duduk dibangku kelas 2 SMA. Mereka satu sekolah nahkan satu kelas. Mereka belajar dengan sungguh-sungguh demi mewujudkan impian mereka bersama. Meskipun mereka berpacaran, namun mereka tetap menomor satukan belajar.
Hari demi hari mereka telah melewati masa-masa kelas 2, kini mereka berinjak dibangku kelas 3 SMA yang akan menentukan untuk kedepannya. Mereka menjalin hari-hari yang bahagia dan seperti biasa Alarm jam 10 pagi selalu menjadi simbp hubungan mereka untuk saling mengingatkan dalam keadaan jauh atau dekat.
Jam 10 pagi tanda bel berbunyi. Setiap siswa keluar dari kelasnya untuk melakukan kegiatan atau istirahat dilingkungan sekolah. Setiap jam istirahat, Herry selalu berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam sambil membantu menyusun buku perpustakaan.

“selamat pagi ibu!” ucap Herry dengan penuh senyuman.
“selamat pagi Herry, wah sudah kelas 3 yah mau selesai!”
“iya bu!”. Sambil bersalaman.
“apa ada yang bisa ibu bantu nak?”
“saya mau meminjam buku ensiklopedia, apa ada buku ini disini?
“oh kalau buku itu tidak ada!”
“oh gitu yah bu, tapi ko gak ada?
“buku ensiklopedia yang dulu ada tapi kalau yang baru tidak ada mungkin buku dari pemerintahnya belum sampai kesini!”
“oh iya gak apa-apa deh buku, kalau begitu saya mau bantu beresin bukuaja deh bu!”
“iya terimakasih nak, kamu memang baik!”
“sama-sama bu!”

Herry mulai membereskan buku yang ada diperpustakaan itu. Tak lama kemudian, Linda datang mencari Herry.

“Herry!!”
“ hey linda! Ada apa?”
“gak apa-apa! Cuma mau bantu kamu doang beresin buku! Hehehe”
“ih kamu ini kirain ada apa, ya sudah terimaksih yah!”
“ok bebp! hehe”
“apa itu? Apa itu sebuah kata yang kamu ucapkan ledekan buat aku dengan kata bebp?”
“hehe kalau iya? Kenapa!
“kamu! Ih”

 Mereka bercanda bersama dengan penuh tawa suka riang. Tak heran jika diantara mereka ada yang hingga mengeluarkan air mata saat tertawa, terutama Linda.

“Linda matamu mengekuarkan air mata!” sambil mengusap kedua mata linda dengan kedua tangan Herry yang penuh kasih sayang.
“iya mataku berair jika terus tertawa seperti ini, hehe!” sambil memegang tangan Herry.
“tidak masalah kamu mengeluarkan air mata saat bahagia, asalkan jangan pernah mengeluarkan air mata kesedihan dari wajahmu yang manis itu!”.
“hehe bisa aja kamu gombal!”
“aku gak gombal, aku serius!|”

 Ditengah-tengahnya kebahagian, tiba-tiba salah seorang guru datang berkunjung melihat Linda dan Herry sedang saling berpegangan. Hal ini mebuat Herry melepaskan tangannya dari wajah Linda.

“hey sedang apa kalian! Apa yang kamu lakukan Herry dan kenapa Linda mata kamu sepertinya telah menangis?!” Tanya pak guru.
“gak apa-apa pak, kami sedang beresin buku-buku yang ada diperpustakaan sambil bercanda, dan tak disangka karena penuh tawa mata Linda mengeluarkan air mata!”. Jawab Herry.
“apa benar yang dikatakannya, Linda?” Tanya pak guru.
“iya pak benar! Maaf yah pak Herry Cuma ingin menghapus air mata saya karena tangan saya cukup kotor untuk menghapusnya.” Jawab Linda.
“oh begitu! Ya sudah kalian lanjutkan beresin bukunya dan jangan lupa jika bel haru segera masuk kelas!”
“siap pak” jawab Linda dan Herry.

 Mereka melanjutkan aktivitas membereskan buku. Dan bel tanda masuk mulai berbunyi. Mereka kemudian pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
Suatu hari mereka berhasil menempuh masa-masa sekolah. Herry yang akan berencana melanjutkan kuliah ke kota ia mendapat izin dari kedua orang tuanya. Sementara Linda tidak di izinkan untuk melanjutkan. Saat itu mereka berdua sedang berada disaung sawah tempat yang cukup nyaman untuk melihat matahari tenggelam disora hari.

“Lin, aku dizinin pergi ke kota untuk kuliah!” ucap Herry dengan penuh bahagia.
“syukurlah kalau begitu aku ikut senang!~” ucap Linda dengan tersenyum paksa.
“kenapa kamu seperti orang yang tidak tulus begitu senyumnya? Senyum dong yang lebar heheh!”
“maafkan aku Herry!”
“maaf kenapa? Memangnya kamu punya salah apa? aku baha………
“bukan itu!!!”
kemudian Herry terdiam saat Linda mengungkapkan sedikit Kata yang bernada amarah.
“maafkan aku Herry, aku gak bisa ikut kamu pergi ke kota untuk kuliah karena aku tidak memliki izin dari kedua orang tuaku!!”. Ucap lanjut Linda.
“ke,kenapa? Apa salah jika kamu pergi melanjutkan study kamu?”
“mungkin hal ini tidak salah dimata kamu, namun salah dimata kedua orang tuaku!, mungkin gak percaya dengan hal ini tapi aku akan dijodohkan dengan orang lain oleh kedua orang tuaku!”
“a,aapa? Haha kamu bencanda kan!
“aku gak becanda Herry!!. Ucap Linda sambil mengeluarkan air mata.
“kenapa kamu tega melakukan ini setelah semua apa kita lewati bersama!”
“jujur aku tidak mau bahkan aku tidak ingin menikah lebih cepat dari ini dan aku…..”
“cukup Linda!. Aku menegerti!!.
“kamu tidak mengerti Herry!” sambil menangis.
“Lin aku sadar aku bukan yang terbaik dimata kedua orang tuamu dan aku hanya 
seorang pelajar jadi wajar saja orang tuamu akan menikahkanmu dengan seseorang yang terbaik!”
“tapi aku hanya ingin pergi bersamamu ke kota!”
“iya aku tahu! Tapi kamu harus menuruti apa kata kedua orang tuamu dan…..”
“tapi Her…..”
“dan kamu akan bahagia lebih dari aku!

 Setelah itu, Herry pergi meninggalkan Linda. dengan wajah yang tersenyum namun hati terluka. Herry tetap pergi meninggalkan Linda yang sedang menagis. Saat itu juga, senja menjadi saksi tentang perpisahan diantara mereka yang menyisakan kenangan indah dalam air mata kesedihan.
Semenjak itu, Herry tak pernah melihat Linda lagi. Ia menagis dan mengurung diri dikamar. Ia berusaha tetap tegar dengan kenyataan namun yang ada hanya air mata yang mengalir didasar hati dan jiwanya.
Suatu saat Herry bersiap-siap untuk pergi ke kota dan melanjutkan pendidikannya. Ia bersiap-siap. Tanpa disengaja ia melihat sebuah undangan pernikahan. Ia membuka undangan itu dan ternyata itu adalah undangan Linda menikah. Undangan itu sudah lama berada diluar jendela rumah Herry, dan tak disangka juga Linda menikah dihari Herry akan mulai pergi ke kota. Herry kembali lagi teringat setelah 2 minggu ia tidak bertemu Linda. ia kembali dilema dengan hal ini. Ia harus memutuskan apakah harus datang memenuhi undangan atau tidak.
Sementara itu, pesta pernikahan Linda sangat meriah. Ia menikah dengan seorang laki-laki dari kota. Pesta pernikhan Linda sangat meriah hingga hampir seluruh warga desa datang dan diundang. Saat itu jam 10 pagi alarm jam berbunyi, namun alarm tanda peringatan mengabari sang kekasih kini berubah menjadi acara pernikahan yang dilalui dengan orang lain. Linda kembali teringat pada masa-masa yang telah ia lalui bersama Herry. Namun, karena telah berlalu ia akhirnya resmi menjadi istri orang lain. Semua orang berpesta diacara kebahagiaan itu. Akan tetapi Herry tidak datang memenuhi undangan, sehingga hal ini membuat tanda Tanya Linda dan sebagian warga yang tahu tentang hubungan Herry dan Linda.
Kira-kira pukul 14:30 waktu pesta pernikahan Linda akan segera berakhir. Dan saat itu pula Herry datang ke pesta pernikahan Linda. ia tampil dengan gaya seorang mahasiswa dengan hati yang besar. Hal ini, sontak menjadi perhatian keluarga dan warga sekitar yang masih ada diacara pernikahan Linda.
Dengan penuh senyuman manis dan tampilan rapih, Herry mengucapkan selamat kepada Linda atas pernikhan yang ia dapat

“waw pestanya meriah sekali, wahh selamat yah Lin!!” ucap Herry dengan penuh senyuman.
“Herry??” Tanya linda,
“ada apa Lin?
“aku mau bicara sebentar, ikut aku!

 Mereka berdua pergi kebelakang rumah, yang disana berisi tempat pemotretan sang pengantin. Mereka duduk dikursi itu. Kemudian Herry membuka tasnya dan memberikan Linda sebuah hadiah yang cukup besar.
“ini untuk kamu Lin!!”
“kamu gak usah repot-repot Herry!!
“sudah ambil aja sebagai tanda terakhir dari aku!
Linda mengambil hadiah dari Herry dan meletakannya dipangkuan.
“Herry maafkan aku!!
“apa? maaf apa! kamu gak usah minta maaf!
“tapi kan ….
“sudah! Mulai sekarang aku ingin melihat air mata kebahagian dimatamu, sama seperti yang pernah kita lalui bersama dulu saat canda tawa menghiasi hari-hari kita dan… kini kamu mendapat seseorang yang abadi!”
“Herry…..
“dan satu hal lagi! Aku akan pergi ke kota sekarang! Aku mungkin akan tinggal disana dan mendapatkan pendidikan! Maaf Cuma ini bisa aku lakukan saat hari kebahagianmu, aku harap kamu menyukai apa yang ada didalam kado itu. Maaf aku pergi.

  Herry akhirnya pergi dari pesta pernikahan Linda setelah ia memberi ucapan selamat dan memberikan kado trakhir. Linda hanya bisa terdiam dan melihat langkah demi langkah Herry pergi.
Malam telah tiba, Linda dan suaminya membuka setiap kado yang mereka dapat. Kemudian linda membuka kado dari Herry. Isinya adalah sebuah sepasang alat sholat dan sepucuk surat. Linda membaca sepucuk surat yang Herry tuliskan untuknya
“Linda selamat yah atas kebahagian yang telah kamu dapat hari ini. Kini kamu tidak akan lagi memberikan kabar kepadaku saat alrm pukul 10 pagi berbunyi. Namun kini tanda itu akan kamu lalui bersama suamimu mungkin belahan jiwamu yang abadi. Maaf yah aku Cuma bisa ngasih ini dan memberikan kata-kata lewat sepucuk surat kecil ini. Sekali lagi selamat yah! Dan aku pergi menuju dunia dan cerita yang baru”
 Akhirnya cerita mereka berakhir dengan air mata. Herry pergi mengejar cita-citanya dan Linda hidup bahagia dengan orang yang mungkin ia cinta.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment